PERMASALAHAN BUDIDAYA IKAN NILA DI
PEKALONGAN DESA JERUKSARI
Di pekalongan meski berjarak sekitar dua
kilometer dari bibir pantai laut utara Jawa, dahulu kala lahan pertanian di
Jeruksari terkenal subur. Tiap satu hektare sawah rata-rata mampu menghasilkan
10 hingga 11 ton padi jenis IR 64. Kini, kesuburan lahan pesisir itu tinggal
kenangan. Bencana rob yang mendera sejak tahun 2004 lalu telah mengubah 121
hektare sawah menjadi rawa. Naiknya air laut ke daratan hingga membanjiri 1.131
rumah warga Jeruksari juga sudah tak terhitung. Selama 11 tahun, para petani
meninggalkan sawahnya yang terendam rob. Untuk menghidupi keluarganya, mereka
terpaksa mengadu nasib menjadi buruh di Kota Pekalongan dan sekitarnya.
Pada 2011, lahan bekas sawah itu mulai
dimanfaatkan untuk keramba tancap. “Tapi baru 76 hektare yang digarap. Sisanya
seluas 45 hektare masih terbengkalai”. Keramba tancap itu serupa tambak
berpagar jaring untuk ternak ikan nila. Keramba tancap dikelola 17 kelompok.
Tiap kelompok beranggotakan 15 sampai 20 warga. Tiap satu petak keramba tancap
seluas 2.000 meter persegi diisi 300 hingga 400 benih nila yang dapat dipanen
tiap empat bulan, Dengan harga nila Rp 12.000 per kilogram, satu petak keramba
tancap itu hanya menghasilkan keuntungan bersih Rp 400.000 tiap kali panen.
Rendahnya keuntungan itu akibat biaya panen mencapai 50 persen dari total laba
kotor. “Nila sulit dijaring, jadi kami harus bayar tenaga tambahan” , kata petambak. Yang lebih
menyakitkan, banyak nila yang mati karena keramba tancap
tercemar limbah tekstil yang langsung dibuang ke sungai.





